Kekerasan Terhadap Masyarakat Adat Bisa Meningkat

(Foto: Rainforest Action Network)

Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) memperkirakan konflik disertai kekerasan berupa perampasan tanah, wilayah, dan sumber daya alam di wilayah adat akan terus meningkat pada 2014 jika jika pemerintah tidak serius mengimplementasikan dan menindaklanjuti putusan Mahkamah Konstitusi (MK)No.35/PUU-X/2012 bahwa hutan adat bukan lagi sebagai hutan negara.

Kekhawatiran itu terungkap dalam Catatan Awal Tahun AMAN bertajuk ‘Tonggak Sejarah Masyarakat Adat Harus Diperkuat’ di Jakarta, Senin (27/1) kemarin. Sejumlah tokoh dan pemerhati masyarakat adat hadir dalam acara tersebut.

Selama 2013, AMAN menangani 143 kasus konflik kekerasan terhadap masyarakat adat. Diperkirakan jumlah kasus konflik pada tahun lalu akan meningkat pada tahun kuda ini. Bahkan bisa tiga kali lebih besar dari yang telah ditindaklanjuti AMAN karena banyak yang tidak dilaporkan dan tidak terdokumentasi dengan baik. Sekadar contoh, enam bulan paska penetapan UU No. 18 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan (UU P3H), tiga bulan setelah Putusan MK No 35tersebut, sudah 11 orang warga masyarakat adat ditangkap  dan terjadi pengusiran terhadap 378 kepala keluarga di Bengkulu dan Kalimantan Selatan. Tindakan aparat justru merujuk pada UU P3H ini.

Abdon Nababan, Sekretaris Jenderal AMAN, memperkirakan pada tahun ini jumlah konflik akan tetap tinggi,bahkan meningkat karena pemerintah lamban menindaklanjutiputusan MK No. 35/PUU-X/2012.Perkembangan selama delapan bulan terakhir menunjukkan minimnya komitmen pemerintah, terutama Kementerian Kehutanan, menindaklanjuti putusan MK. Abdon meminta Presiden mengeluarkan instruksi khusus tentang wilayah adat.

Anggota Komnas JAM, Sandra Moniaga, mengatakan Komnas memaknai putusan MK sebagai bentuk koreksi negara atas kebijakan yang tidak didasari penghormatan hak-hak asasi manusia yang selama ini telah dijadikan dasar hukum atas pengakuan pemerintah secara sepihak atas wilayah-wilayah masyarakat hukum adat sebagai bagian dari hutan negara. “Putusan MK tersebut semestinya ditempatkan sebagai pintu masuk untuk melakukan langkah-langkah pemulihan/restitusi hak ulayat masyarakat hukum adat atas wilayah adatnya, termasuk hutan adatnya,” ujarnya.

Bagi masyarakat adat dan juga bangsa Indonesia Putusan MK No.35 merupakan tonggak sejarah karena berarti diakuinya kembali HAM masyarakat adat terhadap wilayah mereka. Putusan MK sejalan dengan Rio Declaration on Environment and Development, yaitu masyarakat hukum adat mempunyai peranan penting dalam pengelolaan dan pembangunan lingkungan hidup karena pengetahuan dan praktik tradisional.

Karena itu pada tahun ini tonggak sejarah tersebut harus diperkuat dengan perundangan yang makin menjamin HAM masyarakat adat, seperti pengesahan Rancangan Undang-Undang tentang Pengakuan dan Perlindungan Hak-Hak Masyarakat Adat (PPHMA).

Sumber: Hukum Online


Related Project:

Proyek Hak-hak Atas Tanah

Wilayah Kehidupan adalah serangkai 10 video pendek yang bercerita tentang perlawanan, ketahanan dan harapan komunitas yang berada di garis depan serbuan global atas tanah. Perangkat ini bertujuan untuk berbagi cerita, pengalaman dan gagasan antar masyarakat, dan untuk membantu memicu diskusi Anda sendiri.


Cerita terbaru

Lowongan Pekerja Program LifeMosaic di Indonesia

2nd Aug 2021
Kesempatan khusus untuk bergabung dengan tim kecil LifeMosaic yang bersemangat. Kami sedang mencari Pekerja Program untuk mendukung gerakan masyarakat adat di Indonesia. Tenggat pengiriman lamaran tanggal 16 Agustus 2021.


Lowongan Pekerjaan di LifeMosaic

2nd Sep 2019
Ingin bergabung dengan tim LifeMosaic yang bersemangat? Kami sedang mencari Pekerja Program untuk mendukung gerakan masyarakat adat di Indonesia. Tenggat pengiriman lamaran tanggal 16 September 2019.


LifeMosaic adalah lembaga nir laba yang tercatat (Nomer pencatatan : SC300597) dan lembaga amal tercatat di Skolandia dengan nomer SC040573