Pendidikan Adat

  • Kembali ke Kampung : Sebuah Perangkat tentang Pendidikan Adat

    LifeMosaic, bersama para mitra, AMAN dan YP-MAN, telah mengembangkan perangkat Pendidikan Adat.

    Rangkaian materi di dalamnya ditujukan bagi para pendidik adat, pemrakarsa pendidikan adat, atau bagi siapapun yang tertarik dengan pendidikan yang membantu menjaga keberagaman ekspresi kemanusiaan.

    Kumpulan materi ini membantu mengilhami dan melatih para pendidik menyiapkan prakarsa-prakarsa pendidikan adat baru, serta membantu menciptakan tukar-pikir dan pemahaman tentang prinsip-prinsip umum pendidikan adat sebagaimana telah berkembang di seluruh dunia.

    Perangkat ini tersedia dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris, dan akan disebarluaskan ke banyak komunitas masyarakat adat di seluruh Indonesia, tempat pusat-pusat pendidikan adat sedang dibahas dan dibuka.

    “Perangkat Pendidikan Adat ini membantu kami menyadari bahwa Bahasa Using bisa saja punah dan membuat kami semakin yakin untuk terus mengkampanyekan Bahasa Using, meneruskan pembuatan Kamus Kecil Bahasa Using, dan menyusun Kamus Digital Bahasa Using berisi beragam dialek dari berbagai wilayah bersama Paguyuban Sengker Kawung.” Widie Nurmahmudy, Sekolah Kampung Batara – Banyuwangi, Jawa Timur

    Perangkat ini membantu kami berdialog dengan warga yang selama ini belum mendukung gerakan kami dan pelan-pelan mengikis prasangka ‘orang gila ngurusin adat lama’. Ia mudah digunakan, jadi kami akan membuat layar tancap keliling setiap bulan agar semakin banyak orang yang mendukung.” Noviansyah, Sekolah Adat Benakat – Sumatera Selatan

    Perangkat mencakup:

    • Buku Pendidikan Adat
    • 5 video yang menunjukkan contoh-contoh inspiratif berbagai prakarsa Pendidikan Adat
    • Deklarasi Pendidikan Adat di Indonesia – Ciptagelar
    • Beberapa materi Pendidikan Adat oleh para pembuat film, pendidik, dan organisasi lainnya.

    Ilmu Pulang: Sebuah Buku tentang Pendidikan Adat – Ilmu Pulang adalah sebuah buku yang dipersembahkan untuk gerakan pendidikan adat Indonesia yang dinamis dan menarik. Buku ini memberikan gambaran umum tentang apa itu pendidikan adat dan mengapa ia dibutuhkan; menyelisik akar-akar gerakan pendidikan adat di Indonesia; dan mengurai berbagai prakarsa dekolonisasi pendidikan yang menempatkan pengetahuan, bahasa, dan ilmu semesta adat di jantung pengalaman pendidikan. (Serge Marti / LifeMosaic / YPMAN 2019)

    Pamulaan – Pusat Pendidikan Masyarakat Adat – Pamulaan merupakan universitas adat yang dibangun untuk kaum muda adat Filipina. Tujuan utamanya adalah untuk menciptakan pendidikan tinggi yang peka dan sesuai budaya; menghasilkan para sarjana adat yang berpengetahuan dan keterampilan tapi tetap berakar pada budaya mereka sendiri. (LifeMosaic 2019)

    Tugdaan – Sekolah Menengah Adat – Pusat Pembelajaran dan Pengembangan Mangyan Tugdaan adalah lembaga pendidikan yang dimaksudkan untuk melayani 8 suku Mangyan di Mindoro Timur dan Barat, Filipina. Sekolah bagi anak-anak usia 11-18 tahun ini didirikan pada tahun 1989 setelah rangkaian panjang pembahasan dengan para tetua yang telah belajar dari pengalaman bahwa mereka dibeda-bedakan dan diperdaya oleh orang-orang dataran rendah karena berpendidikan sangat rendah. Mereka membangun impian untuk mendidik kaum muda tanpa menghilangkan kepercayaan, pengetahuan, dan praktik-praktik budaya mereka yang berakar kuat. (LifeMosaic 2019)

    Merajut Benang Peradaban Samabue  Sekolah Adat Samabue didirikan pada tahun 2016 di Kalimantan Barat. Sekolah ini menjadi kelompok belajar sepulang-sekolah untuk melayani anak-anak adat yang belajar di sekolah umum negeri dan bertujuan untuk mengakarkan anak-anak pada pengetahuan dan budaya tradisional mereka sendiri. Guru-gurunya adalah sukarelawan adat dan para tetua setempat yang menjembatani hubungan antar-generasi. (LifeMosaic 2019)

    Pendidikan Adat Misak: Memerdekakan PikiranMasyarakat adat Misak, dari selatan Kolombia, mengalami kehilangan hampir seluruh budaya, wilayah dan bahasanya sebelum merebut kembali tanah leluhur mereka di tahun 1970-an. Sejak itu mereka meremajakan budaya mereka, merebut kembali tradisi mereka dan memperkuat otonomi mereka. Kini, 95% orang Misak berbahasa ibu, dan 9 dari 10 kaum muda yang meninggalkan wilayah adatnya, kembali. Bagaimana orang Misak melakukannya? Dan peran apa yang dimainkan oleh sistem pendidikan adat mereka? (LifeMosaic 2019)

    Kembali ke Kampung – Film ini merekam pertemuan para pendidik adat dari seluruh Indonesia dan Filipina di Kasepuhan Ciptagelar, Jawa Barat, Indonesia. Mereka membahas kelemahan sistem pendidikan nasional saat ini dan dampaknya pada komunitas-komunitas adat. Mereka juga menyusun sebuah visi, dan mulai bermimpi adanya pendidikan adat yang berakar pada sistem pengetahuan dan praktik-praktik budaya mereka di masa datang. “Penting bagi kita memulai pendidikan kita sendiri – pendidikan adat. Sehingga kita yang menentukan metodenya, kita yang menentukan muatan pendidikannya, dan itu semua apa yang ada di wilayah adat kita.” Jhontoni Tarihoran, BPAN (LifeMosaic 2017)

    Deklarasi Pendidikan Adat di Indonesia – Ciptagelar – Deklarasi Ciptagelar ditulis dan disetujui oleh 28 penggerak pendidikan adat dan para pendukungnya dalam retret metodologi pendidikan adat Indonesia yang pertama.

    Kumpulan materi Pendidikan Adat lainnya – film tambahan, dokumen, tautan

    Gerakan pendidikan adat di Indonesia yang luar biasa tumbuh dari hanya beberapa sekolah adat empat tahun lalu, kini menjadi lebih dari 40, tersebar dari Sumatera Utara hingga Papua. Kebanyakan sekolah dibangun oleh para relawan, biasanya generasi muda adat yang bekerja bersama para tetua di wilayah adatnya. Gerakan ini dirawat oleh AMAN, Yayasan Pendidikan Masyarakat Adat Nusantara (YPMAN), LifeMosaic, dan lainnya.

    Untuk mendukung gerakan yang dinamis dan bertumbuh pesat inilah LifeMosaic dan YPMAN meluncurkan Kembali ke Kampung : Sebuah Perangkat tentang Pendidikan Adat.

    Dapat dikatakan bahwa kebangkitan gerakan pendidikan adat merupakan bagian dari pembaruan pendidikan kerakyatan (popular education) di Indonesia, khusus dalam konteks gerakan masyarakat adat. Bersamaan itu, ia juga merupakan suatu proses melindungi dan menghidupkan kembali sistem dan praktik pengetahuan adat.

     

    Apa itu Pendidikan Adat?

    “Pendidikan Adat merupakan pendidikan yang berakar dalam kehidupan dan kebudayaan masyarakat adat. […]pendidikan adat adalah pendidikan yang meletakkan adat sebagai landasan pembelajaran dan pertumbuhan seseorang.” Kring Sumalinab, Lulusan dari Pusat Pendidikan Masyarakat Adat Pamulaan

    Pendidikan adat lahir dari wilayah adat dan para leluhur. Ia khas di setiap bangsa adat karena berakar dari kehidupan dan kebudayaan setiap masyarakat adat di wilayah adat mereka.

    Pendidikan adat adalah kunci agar anak-anak dan pemuda-pemudi adat tetap berpegang pada kebudayaan mereka yang khas. Ada kecenderungan yang berkembang di Indonesia dan di banyak negara lain mengenai pemerdekaan sistem pendidikan, dan pembangunan kembali struktur pendidikan yang memungkinkan pengetahuan, bahasa, dan semesta adat menjadi jantung pengalaman pendidikan mereka sendiri.

    Pada intinya, pendidikan adat mencakup sistem pembelajaran tradisional, filosofi, dan metodologi, yang menjamin penerusan pengetahuan dan praktik adat dari generasi ke generasi.

    Bentuk-bentuk baru pendidikan adat juga muncul, ia juga membantu masyarakat adat menghadapi tantangan yang mereka hadapi saat ini. Prakarsa pendidikan adat semacam itu kini berdiri di lebih dari 20 negara Amerika Latin, di Kanada dan Amerika Serikat, Australia dan Selandia Baru, di Norwegia, dan di Filipina, untuk menyebutkan beberapa. Baru-baru ini, Indonesia mengalami pertumbuhan dan perkembangan pesat dalam pendidikan adat.

    Bentuk-bentuk baru pendidikan adat yang mengakar secara budaya ini membantu anak-anak dan kaum muda adat untuk mencari cara agar tetap terhubung dengan wilayah adat mereka, dan menciptakan peluang bagi mereka untuk berpikir kritis tentang tantangan dan ancaman baru yang dihadapi oleh bangsanya. Hal ini membantu mempersiapkan generasi baru pemimpin adat, yang terhubung secara mendalam, siap untuk mendukung para tetua mereka dalam melindungi hak-hak, budaya, dan wilayah adat, dan bersedia untuk menjelajahi dan mengusulkan cara-cara baru yang menarik untuk memajukan pengetahuan dan praktik adat sambil tetap mengikuti jejak para leluhur.

     

    Mengapa Pendidikan Adat diperlukan?

    Masyarakat adat di seluruh dunia berhadapan dengan berlipat-lipat ancaman bagi wilayah adat, budaya, keyakinan, dan bahasa mereka. Termasuk di dalamnya, berbagai industri pertanian, industri ekstraktif, dan pembangunan infrastruktur yang pesat. Masyarakat adat dibeda-bedakan, ditakut-takuti, didakwa sebagai penjahat, dipenjara, dan bahkan dibunuh ketika mereka menuntut hak-haknya dalam menghadapi pembangunan-pembangunan ini. Banyak masyarakat adat tergusur atau kehilangan akses ke wilayah adatnya. Masyarakat adat menghadapi “gelombang perubahan besar yang secara sistematis mengaburkan sejarah mereka, dan memutus hubungan mereka dengan leluhur mereka.” Abdon Nababan

    Struktur politik saat ini, kekuatan perusahaan, dan banyak sistem pendidikan nasional bertindak bersama untuk memaksa pembauran masyarakat adat melalui penyeragaman budaya. Sistem pemerintahan dan pembelajaran Eropa dipaksakan pada masyarakat adat selama penjajahan Eropa, dan kemudian di banyak negara bekas jajahan yang telah merdeka. Sistem-sistem pendidikan nasional memaksakan bahasa-bahasa dan filsafat- filsafat yang berkuasa, dan cenderung mengajarkan pengetahuan nasional atau global yang seragam. Dalam proses ini, ribuan pengetahuan dan kebudayaan ditutupi, atau digambarkan sebagai hal yang dungu, usang, atau terbelakang.

    Oleh karena itu, munculnya pendidikan adat adalah jalan penyelesaian yang vital dan kreatif untuk membantu melindungi rangkaian sistem pengetahuan khas-setempat yang beragam yang menjamin ketahanan dalam masa-masa perubahan ekologis dan sosial yang cepat ini. Di atas itu semua, pendidikan adat diperlukan untuk memastikan keberadaan dan penerusan pengetahuan-pengetahuan dan pandangan-pandangan hidup yang menjunjung kerohanian, kelimpahan, keseimbangan, keuletan, kemampuan menyesuaikan diri, keberlanjutan, hidup sebatas kemampuan, serta membuat keputusan-keputusan bersama untuk kepentingan semua orang.

    LifeMosaic bekerja untuk mendukung penyebaran pendidikan yang dikembangkan dalam wilayah-wilayah adat; berakar pada sistem dan praktik pengetahuan para leluhur; dan membantu komunitas-komunitas mengatasi berbagai tantangan zaman ini. Kami telah melakukannya melalui pertukaran dan berbagi-keterampilan, produksi perangkat pendidikan, membimbing para pelopor, dan mendukung gerakan-gerakan untuk mengembangkan kriteria pelaksanaannya. Program ini bertujuan untuk:

    • Berbagi informasi tentang inisiatif-inisiatif pendidikan adat di Asia dan Amerika Latin, prinsip-prinsip mereka, sistem pembelajaran, kerangka kerja, pilihan bentuk kelembagaan, pengembangan kurikulum, serta dampaknya bagi kepemimpinan adat dan pembangunan mandiri (self-determined development).
    • Menumbuhkan dan menyebarluaskan pendidikan yang dikembangkan di wilayah-wilayah adat; berakar pada sistem dan praktik pengetahuan para leluhur; dan membantu komunitas-komunitas mengatasi berbagai tantangan zaman ini.
    • Memperkuat pertumbuhan gerakan pendidikan adat Indonesia, khususnya para pendiri dan pengajar di 25 sekolah adat baru, dan 75 sekolah yang direncanakan pada tahun 2018-20.

     

    Latar Belakang Upaya Pendidikan Adat LifeMosaic

    Sejak tahun 2014, LifeMosaic telah meneliti sekolah-sekolah adat dan sistem-sistem pendidikan dwi-bahasa di Asia dan Amerika Latin. Pada tahun yang sama, kami juga membentuk sebuah tim inti Indonesia khusus untuk memikirkan kepemimpinan kaum muda, dan mendukung kaum muda adat bertindak mengembangkan komunitas mereka sendiri. Kami memfasilitasi beberapa ‘Pelatihan Kepemimpinan Generasi Penerus’ yang membawa pada kesadaran kritis akan berbagai krisis yang sedang dihadapi oleh masyarakat adat, dan juga membantu kaum muda untuk menemukan panggilan mereka. Setelah pelatihan pada tahun 2015, tiga alumni memulai sekolah adat di komunitas mereka sendiri dan sekitarnya. Pada tahun 2016, kami mengadakan sebuah retret metodologi yang mengumpulkan perwakilan-perwakilan dari sekolah-sekolah adat yang sudah ada sebelumnya maupun yang baru, termasuk para pendidik adat dari Filipina, dan seorang guru dari sekolah petani. Kegiatan ini melahirkan Deklarasi Pendidikan Adat Indonesia yang pertama, serta terhubungnya sekolah-sekolah itu satu sama lain maupun dengan BPAN dan AMAN. Dari retret metodologi ini, kami melahirkan film Kembali ke Kampung: Pendidikan Adat di Indonesia. Film ini diputar perdana kepada hadirin peringatan Hari Masyarakat Adat Sedunia yang diselenggarakan oleh AMAN, termasuk Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang telah mendukung pendidikan adat.

    Setelah itu, Yayasan Pendidikan Masyarakat Adat Nusantara (YP-MAN) diaktifkan untuk memastikan pengawasan dan kendali penuh pendidikan adat dalam gerakan masyarakat adat.


  • Merajut Benang Peradaban Samabue

    Merajut Benang Peradaban Samabue

    Sekolah Adat Samabue didirikan pada tahun 2016 di Kalimantan Barat. Sekolah ini menjadi kelompok belajar sepulang-sekolah untuk melayani anak-anak adat yang belajar di sekolah umum negeri dan bertujuan untuk mengakarkan anak-anak pada pengetahuan dan budaya tradisional mereka sendiri. Guru-gurunya adalah sukarelawan adat dan para tetua setempat yang menjembatani hubungan antar-generasi. (LifeMosaic 2019)


    Pendidikan Misak Memerdekakan Pikiran

    Pendidikan Misak Memerdekakan Pikiran

    Masyarakat adat Misak, dari selatan Kolombia, mengalami kehilangan hampir seluruh budaya, wilayah dan bahasanya sebelum merebut kembali tanah leluhur mereka di tahun 1970-an. Sejak itu mereka meremajakan budaya mereka, merebut kembali tradisi mereka dan memperkuat otonomi mereka. Kini 95% orang Misak berbahasa ibu, dan 9 dari 10 pemuda yang meninggalkan wilayah adatnya, kembali. Bagaimana orang Misak melakukannya? Dan peran apa yang dimainkan oleh sistem pendidikan adat mereka? (LifeMosaic 2019)


    Pamulaan – Pusat Pendidikan Masyarakat Adat

    Pamulaan – Pusat Pendidikan Masyarakat Adat

    Pamulaan merupakan universitas adat yang dibangun untuk kaum muda adat Filipina. Tujuan utamanya adalah untuk menciptakan pendidikan tinggi yang peka dan sesuai budaya; menghasilkan para sarjana adat yang berpengetahuan dan keterampilan tapi tetap berakar pada budaya mereka sendiri. (LifeMosaic 2019)


    Tugdaan – Sekolah Menengah Adat

    Tugdaan – Sekolah Menengah Adat

    Pusat Pembelajaran dan Pengembangan Mangyan Tugdaan adalah lembaga pendidikan yang dimaksudkan untuk melayani 8 suku Mangyan di Mindoro Timur dan Barat, Filipina. Sekolah bagi anak-anak usia 11-18 tahun ini didirikan pada tahun 1989 setelah rangkaian panjang pembahasan dengan para tetua yang telah belajar dari pengalaman bahwa mereka dibeda-bedakan dan diperdaya oleh orang-orang dataran rendah karena berpendidikan sangat rendah. Mereka membangun impian untuk mendidik kaum muda tanpa menghilangkan kepercayaan, pengetahuan, dan praktik-praktik budaya mereka yang berakar kuat. (LifeMosaic 2019)


    Kembali ke Kampung - Pendidikan Adat di Indonesia

    Kembali ke Kampung - Pendidikan Adat di Indonesia

    Pada Bulan Maret 2016, para penggerak Pendidikan Adat dari seluruh Indonesia dan Filipina bertemu di Kasepuhan Ciptagelar, Jawa Barat, untuk membahas pendidikan adat di Indonesia. Mereka membahas masalah-masalah: "Sistem Pendidikan yang ada saat ini mengajarkan 'ilmu pergi'" - Sarno Maulana, Sekolah Pasawahan, Jawa Barat. Mereka juga merancang impian masa depan: "Penting bagi kita memulai pendidikan - Pendidikan Adat kita. Sehingga kita yang menentukan metodenya, kita yang menentukan isinya, dan semuanya berada dalam wilayah adat kita." Jhontoni Tarihoran, BPAN (LifeMosaic 2019)



  • Pendidikan Adat Berita

    Sianjur Mula-Mula, Rumah Belajar Anak Batak Toba Mengenal Indonesia

    Rumah Belajar Sianjur Mula-Mula namanya. Bangunan khas Batak Toba yang berada di Sumatera ini, didirikan untuk anak-anak setempat belajar mengenal budayaannya. (Oleh: Mongabay)


    Rumah Belajar Sianjur Mula-Mula Tuan Rumah Retreat Metodologi Pendidikan Adat Se-Nusantara

    Rumah Belajar Sianjur Mula-Mula menjadi tuan rumah untuk Retreat Metodologi Pendidikan Adat yang diselenggarakan Kedeputian IV PB AMAN dan LifeMosaic,



  • Dokumen

    Ilmu Pulang: Sebuah Buku tentang Pendidikan Adat

    Ilmu Pulang: Sebuah Buku tentang Pendidikan Adat dipersembahkan untuk gerakan pendidikan adat Indonesia yang dinamis dan menarik. Buku ini memberikan gambaran umum tentang apa itu pendidikan adat dan mengapa ia dibutuhkan; menyelisik akar-akar gerakan pendidikan adat di Indonesia; dan mengurai berbagai prakarsa dekolonisasi pendidikan yang menempatkan pengetahuan, bahasa, dan ilmu semesta adat di jantung pengalaman pendidikan. (Serge Marti / LifeMosaic / YPMAN 2019)

    Deklarasi Pendidikan Adat

    Deklarasi Ciptagelar ditulis dan disetujui oleh 28 orang penggerak dan pendukung pendidikan adat dalam retret metodologi pendidikan adat Indonesia yang pertama. Kami Pemuda-pemudi Adat Nusantara yang berkumpul dalam kegiatan Retret Metodologi Pendidikan Adat 19-23 Maret 2016 di Kasepuhan Ciptagelar – Banten, memandang Sistem Pendidikan Nasional saat ini Fdak sesuai dengan konteks lokal dan mengancam keberlangsungan hidup masyarakat adat. Sistem ini mencerabut anak-anak masyarakat adat dari orang tua, budaya, pola pikir, cara hidup dan pengetahuan di wilayah adat, yang menyebabkan hilangnya rasa percaya diri dan jaFdirinya. Hal ini menyebabkan munculnya masyarakat yang materialisFk dan memenFngkan diri sendiri sehingga wilayah adat, sistem pengetahuan, jaFdiri, dan hak-hak masyarakat adat terancam hilang. Oleh karena itu, kami berkomitmen mengembangkan Pendidikan Adat untuk mewujudkan masyarakat adat yang cerdas, berdaulat, mandiri dan bermartabat. Sebuah sistem pendidikan yang mampu : • menciptakan generasi penerus yang seFa menjaga wilayah adat, tradisi, budaya, adat isFadat dan lingkungannya; • memperjuangkan hak-hak masyarakat adat; • mempertahankan serta mengembangkan nilai-nilai pengetahuan leluhur masyarakat adat berasas keberagaman. Kami menyadari bahwa Pemuda-pemudi Adat berperan sangat penFng dalam pengembangan Sistem Pendidikan Adat. Sebagai penggerak utama, Pemuda-pemudi Adat harus meningkatkan perannya dalam upaya menjaga pengetahuan adat dari gempuran atau pengaruh luar melalui pemetaan wilayah adat, penggalian sejarah, mempertahankan tradisi dan budaya, serta mengkampanyekan Pendidikan Adat. Langkah-langkah tersebut merupakan bagian dari gerakan untuk mewujudkan masyarakat adat yang berdaulat, mandiri, dan bermartabat. Pemuda Adat Bangkit, Bersatu, Bergerak Menjaga dan Mengurus Wilayah Adat Kasepuhan Ciptagelar, 23 Maret 2016

    Video

    Rumah Belajar Sianjur Mula Mula : Tentang Kearifan Lokal, Budaya Batak Toba, dan Indonesia

    Rumah Belajar Sianjur Mula Mula : Tentang Kearifan Lokal, Budaya Batak Toba, dan Indonesia


    Link terkait

    AMAN

    Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) adalah organisasi sosial independen yang terdiri dari kelompok masyarakat adat dari berbagai kepulauan Indonesia. AMAN merupakan sebuah forum perjuangan masyarakat adat untuk mempertahankan hak-hak masyarakat adat dalam politik, sosial, ekonomi, budaya dan sumberdaya melalui cara-cara yang adil dan berkelanjutan



Proyek yang lain - Melihat semua proyek

LifeMosaic adalah lembaga nir laba yang tercatat (Nomer pencatatan : SC300597) dan lembaga amal tercatat di Skolandia dengan nomer SC040573