Upacara Adat Gawai Suku Dayak Iban

Meletakan pedara di teresang. Foto: Deo, Sungai Utik

Kalimantan adalah kepulauan yang terbagi dalam lima provinsi dan terdiri dari berbagai ragam suku yang mendiaminya. Di antara ragam suku tersebut adalah Suku Dayak. Eksistensi Suku Dayak sendiri terdiri dari ratusan subsuku yang tersebar di seluruh Kalimantan—bahkan ada di Brunai dan Malaysia. Mereka mewujudkan ekspresi kepercayaannya dengan menyelenggarakan berbagai ritual upacara adat. Pelaksanaan ritual-ritual upacara adat tersebut berbeda-beda satu dengan lainnya, baik berbeda dari tata cara prosesi, mantra/doa, maupun sesaji yang digunakan. Perbedaan pada masing-masing ritual adat tersebut tergantung dari fungsi dan tujuannya. Adapun salah satu ritual upacara adat yang digunakan untuk mengungkapkan rasa syukur adalah upacara adat Gawai.

Gawai Dayak di Kalimantan merupakan ungkapan wujud rasa syukur dan terima kasih kepada “PETARA” (Sang Pencipta) atas hasil panen telah diperoleh selama setahun dan mengharapkan hasil yang berlimpah pada tahun selanjutnya.

Mereka juga berdoa agar selalu diberi kesehatan dan keselamatan. Khusus bagi Suku Dayak Iban yang ada di Kalimantan Indonesia dan Sarawak Malaysia, Gawai atau “Gawa” merupakan prosesi adat yang dilaksanakan antara Bulan Mei dan Juni, sedangkan bagi Dayak Iban di Sarawak, Malaysia mempunyai penanggalan yang sudah tetap yaitu 1 Juni.

Sebelum melaksanakan Hari Gawai, masyarakat biasanya menyiapkan makanan-makanan tradisional seperti pulut, rendai, tumpe, kembang goyang dan minuman tradisional seperti air tuak yang akan dihidangkan pada saat gawai. Beberapa rangkaian acara sebelum Gawai: “NGEMAPAS” dilakukan pada malam hari sebelum Gawai agar pelaksanaannya tidak terganggu oleh roh-roh jahat. Pada prosesi ini, ritual dipimpin oleh tetua adat dan semua masyarakat berkumpul. “NIRI KEMBUNG” dilakukan subuh hari pada saat Gawai, yaitu proses mendirikan bendera sekaligus membuat teresang dari bambu yang dihiasi daun isang yang akan digunakan untuk menyimpan pedara, dan ini dilakukan serentak oleh masyarakat sepanjang Rumah Betang.

“NGALU KETEMUAI DATAI” dilakukan pada saat pagi hari ini untuk menyambut tamu-tamu yang datang pada hari Gawai, disambut dengan acara adat dan disuguhkan minuman tradisional, selanjutnya duduk di Ruai sambil berbincang-bincang dan minum, makan yang telah disediakan. Ada juga sebagian tamu yang melakukan tradisi ngetas pintu. Ngetas Pintu berarti mengetuk pintu untuk mengunjungi yang ada di Rumah Betang. Setelah semua tamu hadir, acara gawai tersebut segera di mulai. Di dalam Gawai, biasanya ada Gawai khusus yang dilakukan oleh beberapa kepala keluarga. Gawai khusus tersebut dilakukan tergantung keluarga masing-masing. Maksudnya ialah Gawai yang mempunyai tingkatan dan ada juga gawai yang bisa dilakukan apabila kita memperoleh tanda atau mimpi.

Nama-nama gawai tersebut berbeda-beda begitu juga prosesnya. Ada yang di sebut Gawai Sandau Ari, Gawai Kelingkang, Gawai Kenyalang, Babi Lemai, Tambak Bulu, dan lain-lain.

Salah satu subsuku Dayak Iban yang baru saja menyelanggarakan upacara adat Gawai adalah subsuku Dayak Iban yang ada di Kalimantan Barat. Pada puncak acara ritual adat Gawai Dayak Iban Sungai Utik, Kapuas Hulu, pada Selasa (12-13/6/2017), prosesi dilaksanakan secara meriah dan penuh makna.

Berbagai syarat adat yang bermacam-macam telah melengkapi pada pelaksanaan Gawai. Beberapa syarat kelengkapan yang digunakan antara lain; Babi, ayam, daun-daun dan buah dari alam, nasi putih, telur, pulut atau beras ketan yang dimasak, rendai, tumpe, kembang goyang, uang koin, mandau, benang, rokok, besi, kapur sirih, daun sirih, garam, ase maneh, ari tuak, beras kuning dan lain-lain.

Baca artikel selengkapnya di sini.


Related Project:

Cerita terbaru

Lowongan Pekerjaan di LifeMosaic

2nd Sep 2019
Ingin bergabung dengan tim LifeMosaic yang bersemangat? Kami sedang mencari Pekerja Program untuk mendukung gerakan masyarakat adat di Indonesia. Tenggat pengiriman lamaran tanggal 16 September 2019.


LifeMosaic Meluncurkan Perangkat tentang Pendidikan Adat

30th Apr 2019
LifeMosaic bersama YP-MAN meluncurkan Kembali ke Kampung: Sebuah Perangkat tentang Pendidikan Adat. Rangkaian materi di dalamnya ditujukan bagi para pendidik adat, pemrakarsa pendidikan adat, atau bagi siapapun yang tertarik dengan pendidikan yang membantu menjaga keberagaman ekspresi kemanusiaan.


LifeMosaic adalah lembaga nir laba yang tercatat (Nomer pencatatan : SC300597) dan lembaga amal tercatat di Skolandia dengan nomer SC040573