LifeMosaic Meluncurkan Perangkat tentang Pendidikan Adat

Anak-anak dan remaja Dayak Iban Sungai Utik dalam Pelatihan Pemimpin Generasi Penerus. Foto: Simon Pabaras/LifeMosaic

Kembali ke Kampung : Sebuah Perangkat tentang Pendidikan Adat

Gerakan pendidikan adat di Indonesia yang luar biasa tumbuh dari hanya beberapa sekolah adat empat tahun lalu, kini menjadi lebih dari 40, tersebar dari Sumatera Utara hingga Papua. Kebanyakan sekolah dibangun oleh para relawan, biasanya generasi muda adat yang bekerja bersama para tetua di wilayah adatnya. Gerakan ini dirawat oleh AMAN, Yayasan Pendidikan Masyarakat Adat Nusantara (YPMAN), LifeMosaic, dan lainnya.

Untuk mendukung gerakan yang dinamis dan bertumbuh pesat inilah LifeMosaic dan YPMAN meluncurkan Kembali ke Kampung : Sebuah Perangkat tentang Pendidikan Adat. Rangkaian materi di dalamnya ditujukan bagi para pendidik adat, pemrakarsa pendidikan adat, atau bagi siapapun yang tertarik dengan pendidikan yang membantu menjaga keberagaman ekspresi kemanusiaan.

Peluncuran perangkat bertepatan dengan United Nations Permanent Forum on Indigenous Issues (UNPFII), yang tahun ini bertema “Pengetahuan Tradisional: Penciptaan, Penerusan, dan Perlindungan”. Perangkat ini juga merupakan sumbangan bagi Tahun Internasional Bahasa Adat.

“Perangkat Pendidikan Adat ini membantu kami menyadari bahwa Bahasa Using bisa saja punah dan membuat kami semakin yakin untuk terus mengkampanyekan Bahasa Using, meneruskan pembuatan Kamus Kecil Bahasa Using, dan menyusun Kamus Digital Bahasa Using berisi beragam dialek dari berbagai wilayah bersama Paguyuban Sengker Kuwung Belambangan (SKB).” Widie Nurmahmudy, Sekolah Kampung Batara – Banyuwangi, Jawa Timur

Apa isi Perangkat?

Perangkat mencakup buku berjudul Ilmu Pulang: Sebuah Buku tentang Pendidikan Adat. Buku ini memberikan gambaran umum tentang pendidikan adat, dan menceritakan bagaimana gerakan pendidikan adat Indonesia terbangun. Ia juga menguraikan berbagai prakarsa pendidikan adat di Amerika Latin, Filipina, dan Indonesia, mencakup pendidikan usia dini, pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi.

Perangkat juga berisi 5 film, termasuk berbagai contoh prakarsa pendidikan yang luar biasa:

Merajut Benang Peradaban Samabue  sebuah film yang menampilkan salah satu sekolah adat pertama yang baru-baru ini didirikan di Indonesia.

Tugdaan – Sekolah Menengah Adat – menggambarkan lembaga pendidikan yang dimaksudkan untuk melayani 8 suku Mangyan di Mindoro Timur dan Barat, Filipina. Tahun ini Sekolah Menengah Tugdaan berusia 30 tahun!

Pamulaan – Pusat Pendidikan Masyarakat Adat – menggambarkan universitas adat yang dibangun untuk kaum muda adat Filipina.

Pendidikan Adat Misak: Memerdekakan Pikiran bercerita tentang bagaimana orang Misak di Kolombia mengembangkan sistem pendidikan mereka sendiri, dari sekolah dasar hingga universitas.

Kembali ke Kampung – adalah film pengantar untuk pendidikan adat, berdasarkan pertemuan para pendidik adat dari seluruh Indonesia dan Filipina di Kasepuhan Ciptagelar, Jawa Barat.

Perangkat ini membantu kami berdialog dengan warga yang selama ini belum mendukung gerakan kami dan pelan-pelan mengikis prasangka ‘orang gila ngurusin adat lama’. Ia mudah digunakan, jadi kami akan membuat layar tancap keliling setiap bulan agar semakin banyak orang yang mendukung.” Noviansyah, Sekolah Adat Benakat – Sumatera Selatan

Perempuan Dayak Kanayatn, Murid Sekolah Adat Samabue, Kalimantan Barat, Indonesia. Foto: Nanang Sujana/LifeMosaic

Apa itu Pendidikan Adat?

 “Pendidikan Adat merupakan pendidikan yang berakar dalam kehidupan dan kebudayaan masyarakat adat. […]pendidikan adat adalah pendidikan yang meletakkan adat sebagai landasan pembelajaran dan pertumbuhan seseorang.” Kring Sumalinab, Lulusan dari Pusat Pendidikan Masyarakat Adat Pamulaan

Pendidikan adat lahir dari wilayah adat dan para leluhur. Ia khas di setiap bangsa adat karena berakar dari kehidupan dan kebudayaan setiap masyarakat adat di wilayah adat mereka.

Pendidikan adat adalah kunci agar anak-anak dan pemuda-pemudi adat tetap berpegang pada kebudayaan mereka yang khas. Ada kecenderungan yang berkembang di Indonesia dan di banyak negara lain mengenai pemerdekaan sistem pendidikan, dan pembangunan kembali struktur pendidikan yang memungkinkan pengetahuan, bahasa, dan semesta adat menjadi jantung pengalaman pendidikan mereka sendiri.

Pada intinya, pendidikan adat mencakup sistem pembelajaran tradisional, filosofi, dan metodologi, yang menjamin penerusan pengetahuan dan praktik adat dari generasi ke generasi.

Bentuk-bentuk baru pendidikan adat juga muncul, ia juga membantu masyarakat adat menghadapi tantangan yang mereka hadapi saat ini. Prakarsa pendidikan adat semacam itu kini berdiri di lebih dari 20 negara Amerika Latin, di Kanada dan Amerika Serikat, Australia dan Selandia Baru, di Norwegia, dan di Filipina, untuk menyebutkan beberapa. Baru-baru ini, Indonesia mengalami pertumbuhan dan perkembangan pesat dalam pendidikan adat.

Bentuk-bentuk baru pendidikan adat yang mengakar secara budaya ini membantu anak-anak dan kaum muda adat untuk mencari cara agar tetap terhubung dengan wilayah adat mereka, dan menciptakan peluang bagi mereka untuk berpikir kritis tentang tantangan dan ancaman baru yang dihadapi oleh bangsanya. Hal ini membantu mempersiapkan generasi baru pemimpin adat, yang terhubung secara mendalam, siap untuk mendukung para tetua mereka dalam melindungi hak-hak, budaya, dan wilayah adat, dan bersedia untuk menjelajahi dan mengusulkan cara-cara baru yang menarik untuk memajukan pengetahuan dan praktik adat sambil tetap mengikuti jejak para leluhur.

Anak-anak dan remaja Dayak Iban Sungai Utik belajar tentang wilayah adat mereka. Foto: Simon Pabaras/LifeMosaic

Mengapa Pendidikan Adat penting?

Masyarakat adat di seluruh dunia berhadapan dengan berlipat-lipat ancaman bagi wilayah adat, budaya, keyakinan, dan bahasa mereka. Termasuk di dalamnya, berbagai industri pertanian, industri ekstraktif, dan pembangunan infrastruktur yang pesat. Masyarakat adat dibeda-bedakan, ditakut-takuti, didakwa sebagai penjahat, dipenjara, dan bahkan dibunuh ketika mereka menuntut hak-haknya dalam menghadapi pembangunan-pembangunan ini. Banyak masyarakat adat tergusur atau kehilangan akses ke wilayah adatnya. Masyarakat adat menghadapi “gelombang perubahan besar yang secara sistematis mengaburkan sejarah mereka, dan memutus hubungan mereka dengan leluhur mereka.” Abdon Nababan

Struktur politik saat ini, kekuatan perusahaan, dan banyak sistem pendidikan nasional bertindak bersama untuk memaksa pembauran masyarakat adat melalui penyeragaman budaya. Sistem pemerintahan dan pembelajaran Eropa dipaksakan pada masyarakat adat selama penjajahan Eropa, dan kemudian di banyak negara bekas jajahan yang telah merdeka. Sistem-sistem pendidikan nasional memaksakan bahasa-bahasa dan filsafat- filsafat yang berkuasa, dan cenderung mengajarkan pengetahuan nasional atau global yang seragam. Dalam proses ini, ribuan pengetahuan dan kebudayaan ditutupi, atau digambarkan sebagai hal yang dungu, usang, atau terbelakang.

Oleh karena itu, munculnya pendidikan adat adalah jalan penyelesaian yang vital dan kreatif untuk membantu melindungi rangkaian sistem pengetahuan khas-setempat yang beragam yang menjamin ketahanan dalam masa-masa perubahan ekologis dan sosial yang cepat ini. Di atas itu semua, pendidikan adat diperlukan untuk memastikan keberadaan dan penerusan pengetahuan-pengetahuan dan pandangan-pandangan hidup yang menjunjung kerohanian, kelimpahan, keseimbangan, keuletan, kemampuan menyesuaikan diri, keberlanjutan, hidup sebatas kemampuan, serta membuat keputusan-keputusan bersama untuk kepentingan semua orang.

Murid-murid Sekolah Adat Samabue, Menjalin, Kalimantan Barat, Indonesia. Foto: Nanang Sujana / LifeMosaic

 

Kembali ke Kampung: Sebuah Perangkat tentang Pendidikan Adat tersedia dalam Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia


Related Project:

Pendidikan Adat

LifeMosaic bekerja untuk mendukung penyebaran pendidikan yang dikembangkan dalam wilayah-wilayah adat; berakar pada sistem dan praktik pengetahuan para leluhur; dan membantu komunitas-komunitas mengatasi berbagai tantangan zaman ini.


Cerita terbaru

Lowongan Pekerjaan di LifeMosaic

2nd Sep 2019
Ingin bergabung dengan tim LifeMosaic yang bersemangat? Kami sedang mencari Pekerja Program untuk mendukung gerakan masyarakat adat di Indonesia. Tenggat pengiriman lamaran tanggal 16 September 2019.


Sianjur Mula-Mula, Rumah Belajar Anak Batak Toba Mengenal Indonesia

29th Jul 2018
Rumah Belajar Sianjur Mula-Mula namanya. Bangunan khas Batak Toba yang berada di Sumatera ini, didirikan untuk anak-anak setempat belajar mengenal budayaannya. (Oleh: Mongabay)


LifeMosaic adalah lembaga nir laba yang tercatat (Nomer pencatatan : SC300597) dan lembaga amal tercatat di Skolandia dengan nomer SC040573