Film launch invitation / Undangan launching film
Press Release Bahasa Indonesia
Press Release English
Press Release Bahasa Indonesia
Film DEMAM di launch tangal 30 juni di Kedai Telapak, Bogor. Film ini adalah produksi bersama LifeMosaic, AMAN, dan Gekko Studio sebagai salah satu hasil dari proyek: Community Conversations on Climate Change.
Dari rawa gambut di Riau, kaki Gunung Rinjani, dataran tinggi Filipina dan hamparan hutan Kalimantan Serta Amazon, masyarakat adat berbicara tentang krisis iklim dari pandangan mereka yang unik.
Mereka berbicara secara lugas dan lantang pada masyarakat luas, karena itulah film ini tidak hanya diperuntukkan bagi Masyarakat perkotaan, tetapi film lebih untuk diperuntukkan pada kampung masyarakat adat se-Indonesia, untuk meningkatkan kesadaran dan membangun pengertian tentang perubahan iklim.
“Apa yang merupakan tanda-tanda alam dengan melihat bintang, dengan melihat pohon randu yang sudah berbunga, dengan mendengarkan suara jangkrik, dengan mendengarkan suara binatang kecil, itu tidak bisa dipakai lagi saat ini untuk menandakan kapan musim hujan, atau musim kemarau tiba .” ujar Romo Sukardi, Masyarakat adat, Lombok Utara.
“Bumi memanas, dunia dalam bahaya. Sumberdaya strategis di bumi ini semakin dihabisi. Manusia bukannya memikirkan cara memecahkan masalah ini. Manusia mengumpulkan kekuasaan, semakin cepat dan semakin cepat. Manusia akan menemukan ajalnya. Tapi kami tak ingin akhir itu datang. Kami ingin menjaga bumi. Kami mau bumi tetap ada untuk ribuan tahun lagi.” ungkap
Mario Santi, pemimpin masyarakat adat Kichwa, Amazon, Ecuador.
Masyarakat adat berada di tengah-tengah isu perubahan iklim.
· Mereka membela hutan dan hidup dengan kebiasaan serta gaya hidup yang rendah karbon. Tetapi mereka malah menjadi salah satu dari golongan yang pertama merasakan dampak krisis global ini.
· Deforestasi dan pembakaran minyak bumi serta batubara adalah sumber emisi GRK. Perusahaan batubara, minyak bumi dan perkebunan mencari-cari cara untuk memperluas konsesinya masuk lebih dalam ke wilayah masyarakat adat.
· Pemerintah dan perusahaan mencari cara untuk mengurangi emisi GRK, dengan proyek besar seperti biofuel serta mekanisme pembayaran untuk mengurangi emisi dari kerusakan dan degradasi hutan. Sebagian besar kegiatan ini direncanakan di wilayah masyarakat adat, yang menimbulkan berbagai pertanyaan mengenai bagaimana dampaknya pada hak-hak masyarakat adat.
“Alhamdullilah, hutan Semenanjung kampar menurut penilaian saya, sebagai hutan yang saya perjuangkan ini, kalau bisa saya berpendapat, itu tidak bisa di ukur dengan uang. Itu martabat ukurannya, harga diri, kelangsungan hidup. Tidak bisa di ukur dengan uang”
Ujar Pak Yusuf, Teluk Meranti, Kampar Peninsula, Riau.
“Kita harus menemukan kembali intisari kehidupan. Kita harus menghargai kehidupan lebih dari kebendaan.”
Alberto Pizango, Ketua Aidesep, aliansi masyarakat di Peruvian Amazon.
Press Release English
The film ‘DEMAM’ (fever) has been launched on 30th June at the Kedai Telapak in Bogor, Indonesia. This is a LifeMosaic, AMAN, and Gekko Studio production, as part of the Community Conversations on Climate Change project.
From the peat swamps of Riau, the foothills of Gunung Rinjani, the highlands of the Philippines and the great forests of Kalimantan and the Amazon, indigenous peoples speak out about the climate crisis from their unique perspectives.
They speak directly to other communities, since this is not a film to keep in the cities, but a film made to be shown in communities around Indonesia, in order to help raise awareness and develop understanding about climate change. We hope that you will help to spread this film as widely as possible.
‘The signs of nature, like looking at the stars, seeing the flower of the Randu tree, hearing the flower of the jangkri or other small animals, these can no longer be used to know when the time for the rainy season or dry season is.’
Romo Sukardi, Masyarakat adat, Lombok Utara
‘The world is heating up, the world is in danger. The entire strategic resources of the world are getting used up. Man is not thinking about how to solve this. Man is accumulating more and more power, and is always going faster and faster. He will come to an end. But we do not want the end to come. We want to maintain the world. We want it to survive thousands and thousands of years.’
Mario Santi, Sarayaku community leader, Ecuadorian Amazon
Indigenous peoples are at the heart of the climate change issue.
· They defend forests and have a low carbon way of life. But they are among the first to be experiencing the impacts of this global crisis.
· Deforestation and burning of oil and coal are major sources of GHG emissions. The coal, oil and plantation industries are increasingly seeking to expand their operations on indigenous peoples territories.
· Government and companies are looking for ways to reduce their GHG emissions; with large-scale projects such as biofuels, and payments to reduce emissions from forest destruction and degradation. Most of these projects are also planned on adat territories, and questions are being raised as to how they will affect indigenous peoples rights.
‘I feel that the forest of Semenanjung Kampar, in my opinion, this forest that I am fighting for, cannot be measured with money. It is measured by dignity. Self-worth. Livelihood. It cannot be measured with money.’
Pak Yusuf, Teluk Meranti, Kampar Peninsula, Riau.
‘We have to find the essence of life again. We must value life more than the accumulation of wealth.’
Alberto Pizango, Head of Aidesep, indigenous peoples organisation of the Peruvian Amazon.
Back to page top |