"Industri skala besar telah masuk ke wilayah masyarakat adat, seperti tambang, penebangan kayu, yang berdampak besar terhadap perubahan iklim."
Larry Salomon,
Tokoh Adat, Nikaragua
 
 

Film-film untuk Advokasi

Sumber Informasi Perubahan Iklim dan REDD

Mitra Proyek

REDD di Ambang Pintu

Proyek REDD

 

Permintaan Film

Bagi Cerita Anda

Dukung Kami

 

 

 

 

 

 

Proyek REDD

“Meskipun mereka memberikan kontribusi yang sangat sedikit sebagai penyebab perubahan iklim, masyarakat adat membantu meningkatkan ketahanan ekosistem tempat mereka tinggal serta menafsirkan dan bereaksi terhadap dampak perubahan iklim dengan cara yang kreatif, mengacu pada kearifan lokal dan teknologi lain untuk mencari solusi yang dapat membantu masyarakat luas untuk mengatasi perubahan yang akan datang.”  Siaran Press Forum Tetap PBB mengenai Masalah Adat, 16 April 2008

 

REDD (Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation) dalam Bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai “Pengurangan Emisi Dari Deforestasi dan Degradasi Hutan.” REDD adalah mekanisme yang menempatkan nilai uang pada karbon hutan untuk mengurangi deforestasi. Kenapa karbon tiba-tiba bernilai? Siapa mendapat untung dari proyek baru tersebut? Dan apa dampaknya terhadap masyarakat adat yang tinggal di sekitar hutan?

Deforestasi dan degradasi hutan menyumbang sekitar 15 persen gas rumah kaca yang menyebabkan perubahan iklim.  Namun, penyebab utama perubahan iklim adalah penggunaan bahan bakar fosil, seperti batubara dan minyak bumi, di negara-negara seperti Amerika, Inggris dan Cina.

Untuk menghentikan dampak terburuk perubahan iklim, negara-negara industri harus mengurangi 80% emisi mereka pada tahun 2050. Hal ini membutuhkan perubahan besar terkait dengan bagaimana energi diproduksi dan digunakan, seperti mengganti penggunaan energi dari bahan bakar fosil ke energi yang bersumber dari angin dan matahari, walaupun, investasi yang dibutuhkan untuk itu sangatlah besar. Deforestasi dan degradasi hutan merupakan salah satu penyebab meningkatnya emisi gas rumah kaca. Beberapa kalangan menganggap bahwa membayar negara lain untuk mengurangi deforestasi merupakan cara yang lebih murah untuk mengurangi emisi global.

Dengan REDD, negara-negara dan pengusaha kaya mendanai negara-negara berkembang di daerah tropis untuk membantu mereka mengurangi deforestasi. REDD menjanjikan pengurangan emisi gas rumah kaca, pengurangan kerusakan hutan  dan menyediakan pendapatan alternatif bagi pemerintah, perusahaan dan masyarakat. Salah satu alasan masyarakat tertarik pada REDD karena mereka berharap REDD dapat menjadi sumber mata pencaharian baru buat mereka.

Akan tetapi, REDD juga  berpotensi membawa resiko-resiko bagi masyarakat. Saat ini, dalam perdebatan REDD tidak begitu jelas jawaban mengenai status hak masyarakat adat. Di banyak tempat hak masyarakat adat atas hutan masih belum diakui dan dihormati negara. Pada saat yang sama, aktor-aktor utama penyokong REDD tidak berasal dari masyarakat adat tetapi justru dari pelaku konservasi yang seringkali berkonflik dengan masyarakat adat. Bahkan beberapa pelaku yang sedang mendesain skema REDD adalah aktor utama perusakan hutan. 

Film “REDD di Ambang Pintu” untuk diperuntukkan pada kampung masyarakat adat se-Indonesia untuk meningkatkan kesadaran dan membangun pengertian tentang karbon di hutan, utamanya tentang REDD. Sumber: LifeMosaic, Gekko Studio, AMAN (30 menit)